#9 #30harimenulis
photo from fa.triatmoko
Perpustakaan ‘Batu’ Universitas Indonesia, demikian saya menyebutnya. Batu hitam menyelimuti hampir seluruh tubuhnya. Masih ada celah dari lubang-lubang tak beraturan untuk mengintip isi tubuhnya. Ia besar, gemuk, lebar, serupa gunung, yang memiliki ‘kuncup’ menyembul tak menentu. Juga berlereng hijau. Lereng palsu, tertutup rerumputan hijau, namun terisi beton dan kaca di dalamnya. Liukan garis semen justru membuatnya terasa ‘asli’, mengalirkan air dari hulu ke hilir, seperti menyayat lereng palsu itu.
Saat ini hujan deras. Mungkin ‘sayatan’ itu membuktikan perannya, mengalirkan air ke hilir lereng, Danau Kenanga.
Hujan masih deras. Waktu menunjukkan pukul 2.57PM.
Tiga menit sebelum, Perpustakaan Pusat Universitas UI ini, dijadwalkan tutup pada hari Sabtu. Saya telah berpindah tempat ke sebuah aula berisi kursi-kursi empuk dan beberapa meja bundar tersebar ke ujung aula. Di lantai dasar, ada beberapa tipe aula seperti ini. Isinya, anak-anak muda bersandar santai, tegak menatap serta menarikan jemarinya di atas laptop, rebahan membaca koran, atau bahkan berfoto-foto ria. Sungguh, tempat yang nyaman untuk menghabiskan waktu, tanpa biaya sepersen pun! Dengan fasilitas hot-spot pula! Namun sayangnya saya tidak bisa menikmati sinyal hebat internet gratis ini, walaupun komputer bisa mendeteksinya, tapi tidak diperkenankan membuka satu pun laman web. Entah, apa yang salah, mungkinkah karena saya bukan warga UI, yang tidak memiliki kode UI?!
3.10PM, hujan semakin deras.
Saat ini saya sedang berbagi meja, dengan seorang lelaki, mungkin mahasiswa. Ia menaruh buku tebal sebagai alas laptopnya. Ia permisi, izin berbagi meja, tak ada lagi meja kosong. Tempat ini semakin penuh dengan orang. Orang berlalu lalang tiada henti, sesekali kumpulan orang berjalan bersama. Tebakan saya, mereka telah ‘terusir’ akibat jadwal tutup perpustakaan yang ada di lantai 2 keatas. Mereka sudah pasti mahasiswa. Karena saya tadi mencoba masuk ke area inti perpustakaan di sebagian lantai 1 serta di atasnya, namun gagal karena jegalan seorang satpam yang meminta menunjukkan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) pada saya. Saya memang bukan lagi mahasiswa.
“Loh, orang ‘luar’ belom boleh masuk, Pak?” tanya saya.
“Belom bisa, mbak.”
“Kalo gitu, kapan bisanya, Pak?”
“Baru awal September”
Saya mengangguk-angguk kecewa. Bersama seorang perempuan yang juga terjegal.
Saat ini, saya berbagi lagi dengan seorang perempuan. Satu meja bertiga. Hujan tidak mengizinkan saya menjejak luar ruang. Semakin banyak orang berleyeh-leyeh menghabiskan waktu. Sebentar lalu ada sekelompok orang menenteng kamera SLR, berpose menangkap objek, memicingkan mata. Memang, ‘Batu’ ini sangatlah fotogenik, luar-dalam, semua dinding dalamnya juga diselimuti batu hitam, beberapa dinding terukir, berbagai kata tentang “membaca” bermacam bahasa. Saya tebak begitu. Karena diantara huruf timbul, saya hanya mengerti kata “BACA”, dari berbagai karakter, symbol, dan juga macam huruf latin berjejer di sana.
Tiga jam yang lalu saya masuk ke sebuah kedai kopi, ngendon di StarBucks yang mengisi salah satu ruang dekat pintu masuk si Batu dari sisi Danau. Satu-satunya area komersial, selain bank yang juga menempati ruang di lantai dasar sisi lainnya. Ditemani segelas teh hijau panas memandang permukaan danau yang sangat menenangkan. Kekecewaan kembali saya dapatkan. Kedai kopi termasyur ini ternyata juga belum melengkapi dirinya dengan fasilitas internet nirkabel. huff…Yah, nyatalah saya sebagai generasi sinyal. Tumbang hanya gara-gara tidak menjangkau sinyal, internet apalagi. Tapi pemandangan danau, undakan plaza terbuka dengan beberapa orang yang duduk memandang danau, adalah momen yang sayang dilewatkan. Momen tersebut berhasil memaksa saya menarikan jemari demi urusan serius, menulis dan memikir ini-itu. Urusan serius ini berkali terabaikan, tersingkirkan, malas duduk berpikir.
Sembari bertatap dengan keseriusan, berbagai tingkah menarik terpampang di plaza terbuka pinggir danau dari tempat saya duduk. Muda-mudi duduk di tepi danau, berpose ini-itu demi terekam abadi di media tak teraba, seorang perempuan berambut panjang tergerai berkemeja merah-celana hitam pendek-sepatu berhak tinggi tampak berpose niat didepan bidikan beberapa kameramen yang juga tak luput dari pose ini-itu demi bidikan berbagai tampak dari perempuan muda itu. Betapa hebohnya sekelompok orang terlihat berpose menggelosor versus liukan tubuh seorang wanita di ujung dek kayu tepi danau.
Hhh..Saat ini hujan telah melemah. Air tidak lagi merintik hebat. Hampir satu jam saya keluar dari udara dingin AC kedai kopi yang mencengkeram ketika awan semakin mendung sampai merintikkan air, menuju aula tempat saya menyelesaikan tulisan ini. Aula sudah kehilangan satu persatu penghuninya. Tak lama lagi saya juga sendiri lagi di meja ini. Dari sini telihat kedai kopi itu belum lagi menutup gerainya padahal seharusnya seiring dengan jadwal tutup perpustakaan. Saya semakin cepat menekan tuts keyboard laptop, baterai sudah memburu dengan tanda merahnya. Langit pun sudah mulai bersahabat.
Saya harus cepat berkemas. Meninggalkan tempat inspiratif, menyenangkan ini. Ia sudah berhasil memaksa saya kembali menulis setelah absen sekian lama. Mungkin tempat ini akan menjadi tempat favorit saya, menulis, mencari inspirasi dengan berbagai pemandangan yang ditawarkan.
Dan benar, saya sudah sendiri di meja ini.
***
Akhir kata, terima kasih pada sang Batu atas pengalaman yang diberikan. Lain kali saya akan mengunjungimu lagi, mungkin setelah dirimu berbenah, melengkapi diri, sehingga saya tidak lagi kecewa dan tumbang. Tapi mungkin jika kamu telah berbenah saya tidak bisa menarikan jemari, seperti saat ini. Karena saya, generasi sinyal. Tak ada sinyal gelisah luar biasa. Ketika ada pun, jemari, anggota tubuh, bahkan otak tumbang, tak berfungsi terbuai limpahan aktifitas yang nyatanya tak nyata.
#nikeveryday
