photo from haasbroek
Sudah lama tak menulis..
Klise?!!
Tentu!!
Banyak hal berseliweran di kepala untuk ditulis. Hanya berseliweran. Tak tertulis, tak juga nyata.
Hanya di kepala, terpikir.
Saya (baru) menyadari, saya seringkali terlalu banyak berpikir.
Hanya anggukan kepala yang sanggup mengakuinya. Di saat pikiran selalu berkelit dengan alasan ‘berpikir untuk langkah terbaik’. Tak guna berkelit sesungguhnya.
Mau menulis, ‘harus’ membaca, mencari inspirasi cerita. Seru baca artikel, koran, novel, hingga terbuai. Akhirnya tidak satu pun kata tertulis.
Mau membaca, ‘harus’ mencari bacaan terbaik. Hasilnya lelah membaca ‘pencarian’.
Mau membeli, ‘harus’ browsing, jalan ke sana kemari cari pembanding. Akhirnya capek membandingkan. Tidak jadi beli.
Mau belajar, ‘harus’ mencari bahan. Browsing, satu demi satu bahan sudah tersimpan. Melihat bahan sudah menumpuk, lelah rasanya untuk belajar dari bahan yang tersimpan.
Mau bermusik, ‘harus’ ngulik nada per nada. Belum sampaireff,tak lagi ada semangat.
Mau coba sesuatu yang baru, terpikir ini itu, kalau ini seandainya itu..hufff..
Semuanya atas nama ‘yang terbaik’. Menghasilkan tulisan yang terbaik, mencari bacaan yang terbaik, membeli barang yang terbaik, belajar dari materi yang terbaik, mencari nada yang sempurna, menjalani sesuatu baru yang hebat.
Atas nama ‘yang terbaik’, segalanya dipikir, dipendam di kepala. Diperam, berharap menetas sempurna. Nyatanya tak terjadi apa-apa.
Setiap kali menulis, saya memeramnya berhari-hari. Berpikir, menanti pilihan kata yang tepat. Berharap saat beberapa lama tidak membacanya, muncul kerinduan mengedit hingga tercipta tulisan yang hebat. Nyatanya?
Ok, saya memeramnya, dan membacanya kembali, ketika segalanya sudah terasa basi!!! Lupa segala rasa dan nafasnya. Tak juga ada perubahan fenomenal.
Apa yang diharapkan dari ‘sekedar’ berpikir? Apa beda orang yang terus berpikir dengan orang yang diam berpangku tangan?
Saya berpikir, orang bilang saya berpangku tangan. Batin ini tentu mengelak secara mutlak!!
Lakukan saja!! Mantra ini yang pelan-pelan saya terapkan. Masih saja, tindakan berpikir membuatnya berjalan pada mode ‘pelan-pelan’. Berlindung pada alasan kehati-hatian.
Hajar saja!! Toh mustahil, fenomenal terjadi pada pertama sekali. Berkali pun belum tentu menjadi hebat.
Sekali – dua kali tak ada beda. Sekali – sepuluh kali hanya beda satu kekosongan. Sekali – sepuluh – seratus kali berbeda satu tingkat kuadrat. Hanya berpikir tidak mungkin menjadikannya pada percobaan ke-seratus. Itu pun baru untuk kenaikan tingkat pertama. Ingatlah, pertama bukan takdir jadi fenomenal.
Coba saja!! Enyahkan pikirmu di awal!! Karena berpikir sejak kapan pun tak akan pernah masuk hitungan, bahkan tak juga menjadi yang pertama.
#nikeveryday
