#11 #30hari menulis

 

Setiap pagi, sesampainya di kantor, saya membuka browser. Dua jendela browser pertama, email pekerjaan. Satu jendela berbeda untuk email yahoo pribadi.

Sudah beberapa hari, saya tidak membuka email di pagi hari, akibat dilanda deadline, garis mati tak manusiawi. Kamis pagi itu, saya membuka yahoomail sebelum membuka file pekerjaan yang menjemukan, berhari ditekuni tak kunjung selesai jua.

 

Pada tampilan muka yahoo, terpampang foto Steve Jobs, dengan headline “Steve Job died”!!!

Saya kira itu adalah berita seputar keadaan Apple, brand teknologi yang sangat berpengaruh di dunia, setelah ‘ketiadaan’ Jobs, medio Agustus lalu. Namun, setelah saya membaca keseluruhan isi berita, malah menjurus pada ketiadaannya yang abadi di dunia.

Tak cukup paham atau lebih pada penyangkalan terhadap berita berbahasa asing tersebut, saya segera membuka kompas.com, news browser lokal favorit saya. Memang hanya berupa penyangkalan belaka, karena berita kematian Jobs benar adanya, dan telah menjalar cepat di headline semua media.

 

Kamis itu, waktu Indonesia, dan pada waktu yang berbeda di belahan dunia lain, merasakan perasaan yang sama, duka teramat dalam.

Apapun berita tentang Jobs selalu saya tunggu-tunggu. Ia selalu muncul dalam kata tentang semangat hidup, semangat berbagi, semangat bermanfaat bagi dunia.

Ia membentengi diri perihal privasinya, namun berbalik sangat peduli tentang pencarian dan penekunan kesenangan diri. Kesenangan diri Jobs adalah manfaat bagi dunia. Ketekunan diri Jobs telah mengubah dunia.

‘Hanya’ butuh kesenangan untuk mengubah dunia!!

Dunia ‘hanya’ kehilangan kesenangan seseorang, masih ada kesenangan beribu orang lainnya yang siap mengubah dunia!!

 

 

***

Saya ‘bercengkerama’ melalui hasil kesenangan Steve Jobs, dimulai kisaran setahun lalu saat sedang bergelut mendapatkan barang personal. Tekad saya, secukupnya penghasilan ‘pertama’ harus diwujudkan segera menjadi barang personal. Paling tidak, usaha pertama pengumpulan penghasilan terdedikasi untuk barang bernilai eksklusif-tidak umum yang akan melahirkan karya dari kesenangan personal saya. Terdengar terlampau historis mungkin.

 

Laptop menjadi barang pilihan saya. Dan “Macbook” adalah yang terpilih berikutnya. Tak dipungkiri, setiap produk Apple selalu menyita perhatian setiap orang dengan nilai tampilan yang dibawanya. Tapi tak banyak orang yang memperdalam perhatiannya. Saya tertarik menjadi satu orang yang tak banyak itu.

Berbekal kenihilan pengetahuan tentang Apple, namun didekatkan pada pengguna “Macbook” yang bertestimoni sama tentang kepuasan adalah modal awal. Satu poin utama tentang kemudahan Apple adalah modal besar.

 

Setelahnya, saya mengulik sendiri apapun tentang “Macbook”. Saran bagus didapatkan dari seorang rekan, bagi pemula Apple seperti saya untuk membeli produk bekasnya dulu, walaupun saya kemudian dihadang dengan banyak pandangan miring perihal pembelian barang elektronik bekas. Komentar yang logis adalah jika saya tidak nyaman dengan teknologi tak biasa yang dibawa “Macbook” saya tidak akan terlalu kecewa.

Setelah berbagai riset online mandiri, saya beranikan diri menyemplungkan diri memilih Macbook bekas dengan segala trik di belantara dunia elektronik bekas.

Berbekal ‘ilmu otodidak’ saya mendatangi sebuah toko di Mal Ambassador yang menjual berbagai jenis “Macbook” bekas, berdasarkan info dari dunia maya. Tak banyak toko dimana saya lebih nyaman berkomunikasi dengan pihak penjual, dibanding penjual individu yang lebih sering tertemui di duania maya.

Cukup lama saya berkutat di toko itu. Bahkan sang penjual tidak mempermasalahkannya, tidak menekan saya untuk segera memilih, seperti penjual pada umumnya.  Hal ini yang membuat saya nyaman dan berkeputusan membeli saat itu juga, walau sempat ragu betapa lamanya memilih antara 2 pilihan.

Selama di toko itu saya dipersilahkan mngulik semua komputer yang tersedia, hingga dikatakan ‘jago tentang Mac’, tidak terdeteksi bahwa saya baru anak kemarin sore. Bahkan penjualnya sendiri konsultasi soal harga terbaru dengan saya.

 

Malam itu barang eklusif itu sudah dalam genggaman. Barang yang dulu hanya dalam angan. Merasa menjadi orang terkeren saat berkutat dengan “Maku”, nama yang saya selamatkan padanya.

Saya rela belajar dari nol lagi tentang komputer. Saya berepot-repot mencari padanan software yang biasa saya gunakan di Windows, mencari lagi satu per satu installer software yang saya butuhkan karena koleksi Installer Windows saya tak lagi berguna. Tapi dari semua itu, kepuasan itu tak terbayarkan. Terbebas oleh repotnya mencari anti virus untuk melindungi komputer dari serbuan virus yang tiba-tiba bisa merepotkan saat ditekan deadline. Safety memang ada harganya.

 

Lebih dari setahun, saya menggaulinya. Kepuasan, kebanggaan, eksklusifitas itu tak terbantahkan. Saya bangga bisa menghadiahkan sesuatu yang terkeren untuk diri saya sendiri, hasil jerih payah sendiri.

Terima Kasih, Jobs. Semoga “Maku” ini selalu pengingat untuk selalu peduli pada sebuah kesenangan pribadi, Kesenangan yang suatu saat mungkin bisa mengubah dunia, atau paling tidak mengubah diri untuk selalu senang dan bersyukur atas kehidupan yang telah diberikan:).

 

Terima Kasih, JOBS!!

 

#nikeveryday

@nikpraw

Advertisement