2016

Ajaib, unbelieveable!

Jika 2015 terasa lebih lamban di jalan berkerikil-berbatu dengan nuansa sepi kontemplatif; 2016 berjalan sangat cepat, ramai, gaduh, dan sangat intens. Tak terbayangkan pada awalnya, saya akan se-jungkir balik ini di tahun 2016.

Tak terbayangkan mendapat kepercayaan dari beberapa pihak, sehingga saya harus jungkir balik menjaganya baik-baik. Bagi saya, menjaga kepercayaan itu adalah segalanya, tak ternilai. Dari kepercayaan itu, saya juga banyak belajar untuk mengambil peran, dan mulai dari sini, perlahan saya harus menganggukkan kepala bahwa menyenangkan semua pihak adalah mustahil.

Melihat lebih banyak tempat di Indonesia. Mengenali ujung barat Aceh, baru Banda Aceh (terhutang ke Sabang untuk bisa menggenapi ujung-ujung Indonesia), sampai ujung timur Papua, Merauke. Membuka kembali catatan, sembari diingatkan, memang masih banyak sekali PR yang perlu dikerjakan. Dan itu seperti hutang. Continue reading

Passion

Entah mulai kapan, passion jadi kata kekinian yang menjadi populer sekarang. Mungkin efek millenial? Ketika zaman disebut “telah berubah”.

“Ini mah bukan passion gue!” atau “Passion gue tu ………” terdengar familiar dalam obrolan pertemanan?

Bagi saya, passion sekedar kata hiperbolik di era millenial ini. Di saat ‘passion’ terdengar keren untuk dibahas terus menerus. Seraya passion adalah persoalan terbesar abad ini. Sampai, seseorang yang belum menemukan passion-nya, bisa berkecil hati, karena lingkungannya terlalu berisik, melegitimasi penemuan passion adalah sebuah prestasi. Banting setir mengubah hidup untuk mengikuti passion adalah fenomena hebat yang perlu digembar-gemborkan.

Sepertinya di era 90-an atau sebelumnya, tidak ada yang peduli apakah seseorang bekerja atas passion-nya atau bukan. Padahal, mereka juga menghasilkan hal-hal keren, serupa dengan yang dicap anak sekarang “bekerja dengan passion itu keren”. Continue reading

Pompa Menghidupkan Mimpi

Saya senang sekali menonton, apalagi untuk sesuatu yang beda. Seni yang berbeda.

Untuk pertama kalinya, saya menonton pertunjukkan seni komedi tunggal, standup comedy. Kali pertama untuk seseorang yang spesial, my rockstar, Pandji Pragiwaksono.

Sejujurnya, saya tidak terlalu terhubung dengan seni komedi tunggal. Di tengah trennya yang menjadi populer di Indonesia sekarang, saya coba menontonnya melalui youtube, nonton di TV, tapi selalu gagal mendapatkan tawa yang segitunya. Memang berdasarkan yang saya baca, seni ini ada syaratnya untuk dapatkan efek maksimal yang ditawarkan; perlu ditonton langsung dan di tempat tertutup yang katanya akan memantulkan tawa. Ketika bersama penonton lain, ada efek tawa yang menular, ketika sekeliling kita tertawa, lebih mudah bagi kita bereaksi hal yang sama.

Tak sabar rasanya merasakan efek itu. Continue reading

Diri Sendiri

Personality seseorang, penting bagi saya; komitmen, karakter yang menempel padanya, apa yang terpenting baginya, bagaimana keberpihakannya, apa yang ia upayakan dengan sepenuh hati. Tanpa alasan, tidak ada hubungan dengan atribut yang melekat; pekerjaan, jabatan, status, hanya karena begitulah dirinya. Setiap orang punya personality yang berbeda-beda, itulah mengapa keberadaan seseorang tak bisa tergantikan.

Untuk apa kita melakukan ini, kenapa tidak melakukan itu, seharusnya menjadi motivasi yang datang dari dalam diri sendiri. Bukan karena suruhan orang lain. Pengaruh dari luar boleh-boleh saja, tapi biasanya tidak akan bertahan lama.

Kenapa kita melakukan sesuatu, adalah suatu tanggung jawab terhadap diri sendiri, bukan untuk orang lain, bukan untuk tampilan bagaimana orang lain melihat kita. Continue reading

Kolam Kecil

Butuh hentakan di awal minggu ketika hidup belum sepenuhnya membuatmu terjaga ? Butuh teman, ketika hidup memaksamu tenggelam dalam keharusan ?

Podcast Awal Minggu, mungkin membantu, setidaknya bagi saya begitu.

Ocehan Adriano Qalbi yang muncul setiap senin, yang menemani saya pemanasan untuk siap menempuh seminggu.

Saya yang menyukai segala hal yang bersifat personal, seperti menemukan ‘jodoh’ di kanal ini.

Ocehannya kebanyakan satir, tapi menenangkan.

Ia yang benci dengan teknologi (khususnya sosmed, dan sejenisnya), mengingatkan saya untuk tenang saja ketika tidak eksis di dunia maya, sementara lingkungan berlomba-lomba tampil di sosmed.

Saya sepakat dengannya, kita sudah repot untuk bisa setangguh baja untuk menghadapi dunia yang bikin frustasi –dengan segala kompetisi, hukum rimbanya–, tak perlu tambah repot memusingkan yang di luar sana, yang nyatanya jauh tak tergapai tapi serasa sangat ribut mengganggu kita, akibat kebiadaban teknologi. hahahaha. Continue reading

Maya Kini

Kini, dunia maya mungkin jadi pelarian terbaik dan paling menyenangkan.

Menyenangkan, karena bisa langsung memutuskan perhatian dari apa saja yang sedang kau hadapi.

Menyenangkan, karena banyak yang bisa dilihat dan diselami.

Terlalu banyak yang menarik, bahkan. Begitu banyak informasi, apa yang sedang terjadi di dunia, apa yang sedang dunia lakukan.

Sampai bisa mendatangkan alasan berputus asa. Saya harus berbuat apa, kalau segalanya sudah atau sedang dibuat orang-orang itu. Lantas saya percaya, tak pernah ada yang baru di bawah langit ini.

Setelah putus asa, belum lagi seringnya tersasar, kemudian terasa kepenuhan. Dan parahnya, kepenuhan itu terasa semu.

Pernah merasa bosan membuka media sosial, website, ketika jemarimu otomatis menghubungkanmu dengan dunia maya? Continue reading

Menjadi (tak) Seharusnya

Sekuat tenaga saya acuhkan suara-suara yang berkata ‘jadilah yang seharusnya’.

Jikalau sejak sekolah, ada guru yang mengajarkan bahwa ‘mengikuti’ tidak pernah berguna. ‘Mengikuti’ agar mendapat nilai terbaik, ‘mengikuti’ agar menjadi juara, ‘mengikuti’ agar disebut terpintar-terbaik atau sebutan paling lainnya, ‘mengikuti’ kebenaran dan dilarang berbuat kesalahan.

Jikalau dalam pertemanan, ada jagoan yang berani berkata, untuk apa kita bersaing. Bersaing mendapatkan nilai terbaik, bersaing mendapat pujian dari orang lain, bersaing membentuk kelompok-kelompok dan bersaing juga antar kelompok itu, bersaing untuk mengikuti trendsetter, bersaing untuk menjadi lebih tahu dari yang lain, bersaing agar bisa menasehati yang baik begini dan mempertanyakan kenapa begitu, bersaing untuk bisa berkomentar terhadap yang lainnya, bersaing untuk menjadi sukses, padahal kita telah dibohongi bahwa standar sukses itu tak pernah ada. Continue reading

Anies

Lusa, baru pagi-pagi, saya didera patah hati. Sebabnya, beberapa akun twitter yang saya ikuti, memberi sinyal bahwa Pak Anies Baswedan terkena dampak pembongkaran kabinet hari itu. Saya percaya, akun-akun itu tidak sedang bercanda.

Boleh jadi, saya berlebihan jika sampai terasa patah hati. Saya mengikuti sosoknya ketika beliau menggagas gerakan ‘Indonesia Mengajar’ yang bagi saya, begitu fenomenal. Pernah berada dalam satu ruangan yang sama bersama belasan orang lainnya -juga karena gerakan itu- berbicara, mengenalkan diri, dan mendengarkan pesan beliau secara langsung. Saya tidak tau persis, apa arti kharismatik, sampai saya tiba pada saat itu, ketika mendengar beliau berbicara di ruangan itu, kepada kami, yang segelintir itu. Dia, saya bisa katakan sebagai pembicara ulung, tidak dibuat-buat dengan pilihan kata yang dipilih agar jadi bermakna bagi pendengarnya. Dia berbicara dalam intonasi yang baik, secara sadar menekan kata-kata penting dan memenggalnya, memberi jeda, sehingga orang bisa mengambil mana pentingnya.

Saya mungkin berlebihan. Continue reading

Menjadi

Lama tak menulis.

Padahal penting, untuk menyapu debu, kotoran yang mengendap di pikiran, sebelum berkerak hingga sulit dibersihkan.

Entah kapan bisa benar-benar bersih, walaupun tak harus juga menjadi bersih, steril tanpa noda.

Lama tak menulis.

Sampai tak ingat, bagaimana khasnya tulisan diri sebagaimana sebelumnya dan seharusnya.

Tapi bukankah kekhasan itu akan muncul dengan sendirinya, tak perlu diatur dan tak akan pernah luntur ?

Mungkin saya terlalu khawatir, terlalu berusaha.

Padahal hanya dengan menjadi.

Hanya?

Akh, mungkin kalian juga tahu, tidak pernah sesederhana itu.

Continue reading